RSS

PANGGUNG PUBLIK SUMATERA (World Theatre Day 2012)-Menjamu Penonton di Ruang Publik

Gambar

Pertumbuhan teater di Sumatera Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya dalama lima tahun terakhir tidak lepas dari sumbangsih kelompok maupun seniman yang berdomisili di Padangpanjang. Kelompok maupun seniman teater ini telah ikut mengharumkan nama perteateran nasional. Sayangnya untuk kota Padangpanjang sendiri keberadaan mereka belum terasa ‘akrab’ di masyarakat. Untuk itulah dalam satu diskusi antara sutradara teater dan seniman bersepakat kerja bersama mengenalkan teater baik secara bentuk, genre, style teater maupun senimannya kehadapan masyarakat (publik) di Padangpanjang.

Pertemuan sesama penggiat teater telah dilakukan di sekretariat Teater Sakata Padangpanjang, Jl. Soekarno – Hatta No. 62 Bukit Surungan, Padangpanjang pada tanggal, 29 Desember 2011 dan 4 Januari 2012 yang dihadiri oleh Komunitas Seni Hitam Putih, Komunitas Seni Kuflet, Teater Plong, Sembilan Ruang, Kelompok Pematang, Katatari, Batahimimetheatre dan Teater Sakata sebagai tuan rumah. Dalam pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan antara lain: setiap kelompok mengirimkan utusannya untuk duduk di kepanitiaan dan memiliki tanggung jawab untuk mensukseskkan kegiatan yang sedang dirancang.

Kegiatan yang dianggap cocok untuk melaksanakan iven ini adalah Hari Peringatan Teater Sedunia (WORLD THEATRE DAY) yang jatuh pada tanggal, 27 Maret 2012, yang kemudian diberi tema “Menjamu Penonton diruang Publik” dengan judul publikasi “Panggung Publik Sumatera”. Lokasi acara yang direncanakan adalah: tambang perkapuran Bukit Tui (Bancalaweh) dan Pasar Padangpanjang.

Kemudian pertunjukan yang akan ditampilkan adalah: Monolog, Mime, Teater Modern, Teater Tradisi, dan Teater Kontemporer. Selanjutnya acara dilanjutkan oleh sarasehan teater dengan mengundang pembicara: Halim HD (pengamat teater nasional) Solo dan Yusrizal KW (kritikus teater-wartawan budaya Padang Ekspres).

Harapannya dari kegiatan ini masyarakat Padangpanjang dapat mengenal lebih jauh pentas seni teater baik secara bentuk maupun senimannya sebagai ruang silaturahmi sehingga perkembangan teater di kota Padangpanjang menjadi basis kekuatan teater di Sumatera.

Gambar

RUN DOWN WORLD THEATRE DAY 2012
PANGGUNG PUBLIK SUMATERA
“Menjamu Penonton di Ruang Publik”
Senin-Selasa/26-27 Maret 2012
Tempat: Pasar Padangpanjang, Gedung. M. Syafei dan Bukit Tui Padangpanjang-Sumatera Barat

SENIN, 26 MARET 2012

1. Teater Tutur dengan judul ‘MALIN KUNDANG’. Aktor: Lee Production
(Pukul 13.30 wib-14.00 wib di Pasar padangpanjang)

2. Teater Tutur dengan judul ‘TUPAI JANJANG’. Aktor : Fuji El Ikhsan
(Pukul 14.00 wib-15.00 wib di Pasar padangpanjang)

3. komunitas seni HITAM-PUTIH dengan pertunjukan berjudul “ORANG-ORANG BAWAH TANAH” karya Wisran Hadi-sutradara Yusril
(Pukul 13.00 wib-16.00 wib di Lapangan Voli KORAMIL Padangpanjang)

4. Teater Sakata dengan pertunjukan berjudul ‘DONGENG MANDE DARI BUKIT TUI’ karya-sutradara Tya Setiawati
(Pukul 16.30 wib-17.30 wib di Bukit Tui Padangpanjang)

5. Monolog dengan judul ‘COMPLICATED’ karya Yusril-sutradara Kurniasih Zaitun. Aktor :Edi Satria Mak Itam
(Pukul 16.30 wib-17.30 wib di Pasar Padangpanjang)

6. Naskah Monolog dengan judul ‘CERAMAH ILMIAH Dr. ANDA’ karya Wisran Hadi-sutradara Deri Shukaik. Aktris : Rakena Anjani Amak
(Pukul 20.00 wib-21.30 wib di Pasar Padangpanjang)

7. komunitas Sambilan Ruang dengan pertunjukan berjudul “MATAHARI DISEBUAH JALAN KECIL” karya Arifin C Noer-sutradara Fitri Noveri
(Pukul 20.00 wib-21.30 wib di Pasar Sayur Padangpanjang)

8. komunitas BATAHI MIME THEATRE dengan pertunjukan berjudul ‘BATU’ karya-sutradara Muhammad Hibban Mauludi Hasibuan
(Pukul 21.30 wib-22.30 wib di Pasar Sayur Padangpanjang)

SELASA, 27 MARET 2012

1. Arak-arakan
(Pukul 10.00 wib-10.30 wib, Bukit Surungan-Pasar Padangpanjang)

2. Pembukaan
(Pukul 10.30 wib-11.20 wib di Pasar Padangpanjang)

3. Baca Puisi, Happening Art
(Pukul 10.40 wib-12.00 wib di Pasar Padangpanjang)

4. Grup KUCIANG TUO dengan pertunjukan teater rakyat Minangkabau berjudul ‘SI TUPAI JANJANG’, sutradara Edi Satria Mak Itam
(Pukul 11.20 wib-12.00 wib di Pasar Padangpanjang)

5. Monolog dengan judul ‘KORUPTOR BUDIMAN’ karya NN. Aktor : Andi Jagger
(Pukul 14.00 wib-15.30 wib di Pasar Padangpanjang)

6. Pembukaan Sarasehan
Oleh Wakil Walikota Padangpanjang (Ir. H.Edwin, Sp)
(Pukul 16.00 wib-16.15 wib di Gedung M. Syafe’i Padangpanjang)

7. Sarasehan Teater bersama Halim HD (Kritikus Teater, Networker Kebudayaan) dan Yusrizal KW (Kritikus Teater, Sastrawan, Budayawan)
(Pukul 16.15 wib-18.00 wib di Gedung M. Syafe’i Padangpanjang)

PANITIA
PANGGUNG PUBLIK SUMATERA 2012

 
Leave a comment

Posted by pada 23 Maret 2012 in Tak Berkategori

 

DARI MATRILINI HINGGA WANITA TERAKHIR

Catatan Festival Teater Naskah-naskah Wisran Hadi 2011

Oleh: Afrizal Harun

Koran Padang Ekspres, Minggu 20 November 2011

 

Festival Teater 2011 dengan sembilan karya naskah drama Wisran Hadi (alm) yang dilaksanakan pada tanggal 12-16 November 2011 di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat sebagai bentuk in memoriam dan a tribute to Wisran Hadi telah usai. Tinggal segudang cerita, dokumentasi foto, dokumentasi audio-visual, poster, baliho, liflet, dan beberapa kritik media massa (koran) mengenai pertunjukan sebagai arsip otentik sehingga dapat menjadi rujukan dalam memahami visualisasi karya-karya besar naskah drama Wisran Hadi.

Iven Festival Teater 2011 diikuti oleh sutradara dengan membawa nama komunitas atau kelompok teater independen yang terdapat di kota Padang dan Padangpanjang seperti Enrico Alamo dan Vanny Dila Sari (teater Sakata-Padangpanjang) menampilkan naskah drama berjudul Matrilini, Armeynd Sufhasril dan Anita Dikarina (Gaung Ekspose-Padang) menampilkan naskah drama berjudul Dr. Anda, Muslim Noer (teater Camus-Padang) menampilkan naskah drama berjudul Matrilini, Muhammad Ibrahim Ilyas (teater Imaji-Padang) menampilkan naskah drama berjudul Malin Kundang, Rizal Tanjung (Old Track Teater-Padang) menampilkan naskah drama berjudul Pulau Puti, S Metron (Ranah Teater-Padang) menampilkan naskah drama berjudul Uji Coba, Sulaiman Juned (komunitas seni Kuflet-Padangpanjang) menampilkan naskah drama berjudul Kemerdekaan, Kurniasih Zaitun (komunitas seni Hitam-Putih Padangpanjang) menampilkan naskah drama berjudul off the Record-Sebatas kita, dan Syuhendri (KSST Noktah-Padang) menampilkan naskah drama berjudul Wanita Terakhir (Puti Bungsu).

Selama lima hari berturut-turut menyaksikan seluruh pertunjukan teater di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, saya menilai bahwa aktivitas berteater yang selama ini terlelap dalam etalase-etalase egosentrisme, tersentak bangun dan harus bergegas dalam waktu yang singkat untuk mempresentasikan kerja artistik dan estetik teater dihadapan publik penonton yang mayoritas adalah pelajar, mahasiswa, seniman, budayawan dan masyarakat secara umum, saya sangat terkesan akan hal itu. Muncul respons positif dalam penyelenggaraan iven ini. Dari tanggal 12 sampai dengan tanggal 16 November 2011, Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat dipenuhi oleh penonton teater, sehingga secara tidak langsung tercipta sebuah kesadaran bahwa menonton teater itu menjadi penting, terciptanya interaksi melalui pertemuan yang dialektis selama kegiatan berlangsung. iven ini juga mampu mempertemukan para seniman teater Sumatera Barat sehingga terbangun ruang untuk berdiskusi, share pengalaman berproses teater, khususnya dalam mempersiapkan pertunjukan naskah-naskah drama karya Wisran Hadi.

Membaca Hafalan Teks

Berkaitan dengan karya-karya teater yang ditampilkan, saya melihat ada kecenderungan sutradara dalam merekonstruksi naskah drama Wisran Hadi melalui strategi visual (mise en scene), elemen spektakel pertunjukan seperti dialog aktor-aktris, setting, properti, pencahayaan, rias dan kostum. Kecenderungan ini menurut hemat saya hanyalah satu keinginan sutradara untuk mencermati naskah drama Wisran Hadi yang sarat dengan gaya bahasa puitis, tema naskah drama yang kental dengan idiom-idiom lokal Minangkabau, sehingga masing-masing sutradara merasa memiliki ‘kemerdekaan’ dalam menafsirkan naskah drama Wisran Hadi dalam perspektif pemanggungan yang berbeda-beda, namun menarik untuk diapresiasi.

Hal penting yang barangkali belum menjadi perhatian beberapa sutradara dalam menggarap naskah drama Wisran Hadi yang sarat dengan kekuatan bahasa (dialog antar tokoh) adalah pendalaman terhadap analisis teks sehingga terkesan bahwa proses yang dilakukan lebih mengedepankan aspek bentuk semata. Aktor-aktris cenderung mengucapkan dialog dengan gaya deklamasi dan selalu menghantarkan dialog tersebut kepada penonton, justru yang terjadi adalah situasi yang berjarak antara peristiwa dengan peran tokoh yang sedang dimainkan. Dialog-dialog yang diucapkan bukan berdasarkan pada pemahaman terhadap teks dan motivasi peran namun yang terlihat adalah membaca hafalan naskah dihadapan penonton. Ditambah dengan aspek teknis pencahayaan panggung dan pemanfaatan teknologi (LCD Projector) yang tidak tergarap dengan baik, justru sangat mengganggu peristiwa pertunjukan yang sedang berlangsung.

Situasi ini begitu terasa ketika saya menyaksikan pertunjukan Dr. Anda sutradara Armeynd Sufhasril dan Anita Dikarina (Gaung Ekspose-Padang), Matrilini sutradara Muslim Noer (teater Camus-Padang), Pulau Puti sutradara Rizal Tanjung (Old Track Teater-Padang) dan Malin Kundang sutradara Muhammad Ibrahim Ilyas (teater Imaji-Padang). Kalau seandainya para aktor-aktris bermain secara wajar tanpa harus distilir sedemikian rupa maka jelas akan tercipta interaksi sesama pemain yang tidak artifisial, justru akan mempertegas suasana tokoh yang sedang diperankan oleh aktor-aktris. Ada kesadaran untuk menjaga irama permainan secara wajar, sehingga penonton dapat merasakan daya empati pertunjukan melalui suasana psikologis yang tidak dibuat-buat.

Wanita Terakhir sutradara Syuhendri (KSST Noktah-Padang) dan Uji Coba sutradara S Metron (Ranah Teater-Padang) seperti berada pada titik jenuh dalam mengolah dialog-dialog secara wajar sehingga muncul kecenderungan untuk mengeksplorasi tubuh, setting, properti sembari mengucapkan dialog-dialog. Sutradara terjebak pada memberi beban makna, pemanfaatan simbol-simbol visual dan koreografi tanpa memperhatikan kekuatan kata-kata dalam naskah Wisran Hadi sehingga pertunjukan terasa kehilangan chemistry, lambat, menoton dan eksperimen yang dilakukan sutradara terlihat tanggung (kurang total). Justru akan lebih menarik apabila sutradara memiliki keberanian untuk mendekonstruksi naskah dan mengambil bagian-bagian yang dirasa penting untuk kebutuhan eksplorasi melalui proses elaborasi yang murni berakar pada bahasa tubuh aktor-aktris.

Matrilini sutradara Vanny Dila Sari dan Enrico Alamo (teater Sakata-Padangpanjang) mengingatkan saya ketika menonton Ah, Matjam-matjam Maoenja saduran dari naskah asli berjudul Les Precieuses Ridicules karya Jean Baptiste Poquelin (Moliere) produksi Studiklub Teater Bandung (STB) di Teater Arena Jawa Tengah 14 Juni 2010 melalui spirit gaya Komedie Stamboel. Asumsi saya ketika menyaksikan pertunjukan Matrilini adalah sutradara juga  terinspirasi pada spirit Komedie Stamboel dalam mewujudkan naskah drama Matrilini karya Wisran Hadi. Pertunjukan Matrilini yang sarat dengan aspek musikal, tarian, stilisisasi gestur tubuh yang parodi dan komikal sedikit membuat penonton tertawa namun bukan pada kecerdasan suasana dialog-dialog yang diucapkan oleh aktor-aktris tetapi justru karena ‘lucu’ yang diekspresikan secara fisikal (gaya banci, ekspresi dan gestur yang didramatisir, dan tarian yang dipaksa harus terlihat ‘lucu’). Ke’lucu’an yang dibangun akhirnya kehilangan kontrol, justru mengganggu irama pertunjukan.

Gaya yang berbeda juga terlihat dalam pertunjukan Kemerdekaan sutradara Sulaiman Juned (komunitas seni Kuflet-Padangpanjang). Penonton digiring pada suasana masa lalu ketika Indonesia dijajah bangsa kolonialis. Dalam frame drama ‘ala’ perjuangan untuk memperingati ‘kemerdekaan’, pertunjukan ini menghadirkan beberapa audio orasi-orasi, irama lagu perjuangan. Sutradara memberikan nuansa yang khas Aceh dalam pertunjukan Kemerdekaan, hal ini ditandai dengan adanya properti rencong, ikat kepala dan kesenian Didong. Irama nyanyian, tarian, musik dengan syair yang berbunyi “amanlah, aman duniaku, aman tak pernah hancur” (dinyanyikan oleh sembilan orang pemain Didong) tampil memukau. Namun, saya menilai terdapat tafsir yang keliru dalam memahami naskah Kemerdekaan karya Wisran Hadi. Hal ini tercermin dari pemahaman sutradara dalam memandang kata ‘kemerdekaan’ sebagai produk masa lalu di era kolonialisme. Dua orang tokoh yang berada di suatu lembah dalam hutan kering. Dua orang tokoh seperti mengalami gejala traumatik, depresi, sehingga takut memperlihatkan ekspresi wajah karena rambut terlalu mendominasi muka mereka. Analisa teks yang kurang dielaborasi secara mendalam menyebabkan kata ‘kemerdekaan’ tidak dipahami sebagai konsep filosofi yang esensial dalam kehidupan manusia. Kemerdekaan idealnya menjadi konsep berfikir dan bertindak yang universal tentang hak untuk mengendalikan diri sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain. Kegagalan interpretasi ini menyebabkan kata ‘kemerdekaan’ dipandang terbebas dari belenggu penjajah semata sehingga aktor-aktris mencoba mengimajinasikan memori ‘kemerdekaan’ di masa lalu seperti apa, bukan ‘kemerdekaan’ yang bersifat filosofis. Kegagalan dalam menginterpretasi, akhirnya aktor-aktris menjadi cepat dalam berkata-kata, tidak jelas apa yang sedang mereka perdebatkan, hanya kemarahan-kemarahan yang tidak jelas apa maksud dan tujuannya.

Off the Record-Sebatas kita sutradara Kurniasih Zaitun (komunitas seni Hitam-Putih Padangpanjang) menampilkan naskah Wisran Hadi yang hanya berisi petunjuk adegan berbasiskan pada gerak-gerak pantomim. Namun secara penggarapan, pertunjukan Off the Record-Sebatas kita memasukkan instrumen lokal Minangkabau melalui gerak tari seperti silat dan Ulu Ambek. Kecenderungan untuk mengejar aspek bentuk mengakibatkan pertunjukan Off the Record-Sebatas kita terkesan seperti demonstrasi tubuh yang datang dan pergi begitu saja, belum mengarah pada pendalaman makna sehingga aktor terjebak pada gerak-gerak yang artifisial. Tema tentang kemuliaan, kekuasaan, kesenian dan perselingkuhan seyogianya mampu bersinergi satu sama lain, pertanyaan yang muncul adalah dunia seperti apa yang ingin dibangun oleh sutradara melalui aktor-aktris di atas panggung?. Aspek teknis seperti musik yang diharapkan dapat membantu atmosfer pertunjukan, justru terasa mendominasi pada setiap adegan dari awal sampai akhir, musik seolah-olah hanya menempel dan tidak menyatu dengan peristiwa yang sedang ditampilkan di atas panggung. *Salam Teater*

 
Leave a comment

Posted by pada 20 November 2011 in Tak Berkategori

 

an Experience: Identitas Tubuh-Tubuh dan Pendistorsian Makna

Diterbitkan, koran HALUAN-SUMTERA BARAT, Minggu 19 Juni 2011

Oleh: Afrizal Harun

“Perjalanan tubuh memasuki ruang-ruang gerak dari atmosfir tari yang terus menerus bergerak seperti detak waktu melesat tanpa jeda atau perlahan seperti diam. Perjalanan tubuh pada distorsi ruang-ruang. Pada keringat penari, pada tegur sapa, mata, telinga dan hati. Proses menemukan keindahan, pergulatan keyakinan mengarungi kesederhanaan tubuh-tubuh yang bertemu, hingga pada akhirnya kosong. an Experience adalah kekosongan itu, perjalanan menjadi sunyi diriuh keramaian. Sebuah pengalaman tubuh yang penuh makna yang terus menerus harus dimaknai dan diamini dari tradisi tubuh dengan fenomena gerak yang berkembang”. 

Sinopsis Tari an Experience, koreografer Tyaz De Nio

Cahaya Panggung dan penonton dibuat remang, tubuh keseharian melintas menuju ruang silih berganti, tak ada kebisingan yang ingin memekakkan selaput gendang telinga, hanya bisik-bisik sepertinya ingin bertanya tentang apa, siapa, di mana mungkin saja entah. Tubuh-tubuh mencari kursinya sendiri-sendiri, berdua atau bahkan berlima, tubuh-tubuh terlihat berjejer atau bahkan bersendiri menuju tepi, ia tidak ingin adanya relasi karena tubuh ini ingin menyendiri. Tubuh-tubuh yang lain terlihat hening seraya menatap sepi walaupun terkadang iapun mencoba menyapa tubuhnya sendiri atau bahkan menyapa tubuh-tubuh yang berada di sisi, tetapi entah tubuh siapa? Walaupun terkadang ia ingat, tetapi entah di mana? Ia tidak lagi melanjutkan interaksi ini karena mata telah tertuju pada titik tubuh-tubuh lain yang terlihat diam di tengah panggung. Tubuh mulai teralienasi, ruang telah dipenuhi oleh tubuh-tubuh yang tidak diketahui identitasnya apa, siapa dan di mana. Tubuh-tubuh telah menjadi pemaknaan yang metafor, karena ia memiliki dimensi yang multitafsir. Hanya beberapa tubuh-tubuh yang saling mengenal satu sama lain mencoba memperlihatkan daya ekspresi, pergulatan gestur, tipikal keseharian yang sering mereka lakukan tatkala sedang berinteraksi. Begitulah, ketika mata menyaksikan peristiwa tubuh di luar dirinya, ia melahirkan berbagai macam penafsiran, interpretasi, dan imajinasi. Sebelum pertunjukan dimulai, sepasang mata ini tetap saja terus memperhatikan tipikal tubuh-tubuh yang berada di luar dirinya.

Tepat di tengah panggung yang sedikit gelap, mata dihadapkan pada situasi tubuh-tubuh yang statis, tubuh yang diam barangkali saja memiliki makna, namun saya tidak ingin mencari maknanya apa. Hanya menguras pikiran saja. Anggap saja, diam itu juga memiliki makna. Tidak berapa lama, seorang penari perempuan muncul dari wing kanan bagian belakang menuju wing kiri dibantu dengan pencahayaan spotlight. Ia bergerak mengikuti ritme dan irama tubuhnya. Ketika dipaksa untuk menelusuri lorong waktu yang panjang dan sepi, terkadang tubuhnya menolak, tubuhnya ingin kembali pada tempat semula ketika ia tidak ingin pergi, pola gestur dan teknik tubuh merepresentasikan penolakan tersebut. Walaupun terkadang elemen tubuh yang lain justru ingin menuju lorong waktu tersebut, tubuhnya mengalami perdebatan, tubuhnya kehilangan kesepakatan, tubuhnya telah terdistorsi, sampai pada akhirnya tetap ada yang harus dikalahkan. Akhirnya perempuan itu menembus lorong waktu menuju entah, tetapi untuk apa?.

Sesaat, terasa senyap. Lampu wing kanan bagian belakang-pun dimatikan. Tubuh-tubuh ditengah panggung masih saja diam dan statis. Kemudian satu persatu, tubuh mereka mulai menampakkan reaksinya. Layaknya sebuah proses metamorfosa masing-masing komponen tubuh-tubuh mereka mulai digerakkan dan bermetamorfosis. Ada yang memulainya dengan cara menggeliat, menggerakkan jemari, menggerakan kaki, dan juga ada yang memulainya dengan menggerakkan kepala secara perlahan. Layaknya sebuah proses kelahiran, tubuh-tubuh mulai mencari identitasnya masing-masing.

Tubuh-tubuh terkadang mencari identitasnya sendiri-sendiri, terkadang rampak, berputar, berguling, berdiri, terjatuh, berjalan, berlari, namun tetap tidak menemukan apa-apa. Gerak tubuh yang energik, tubuh yang akrobatik, tubuh yang teatrikal, pola lantai yang tertata dengan rapih layaknya ilmu koreografi yang memang sudah dipahami namun tetap saja terlihat sebuah tatapan yang kosong, tanpa ekspresi, datar (flat), sehingga sempat terfikir apakah ini identitas yang sedang mereka cari?. Pencahayaan terlihat rapih dalam menyikapi warna dan garis cahaya, transisi-transisi peristiwa tubuh yang berkorelasi dengan pencahayaan panggung menunjukkan adanya benang merah yang muncul secara konseptual. Tubuh-tubuh bergerak menuju titik cahaya, terkadang tubuh-tubuh juga kehilangan titik cahayanya sendiri. Pada saat tertentu musik terasa memberikan kekuatan terhadap gestikulasi tubuh, irama dan ritme tubuh. Penataan musik dalam karya tari ini terkadang memiliki posisi sebagai ilustrasi musik, namun dalam posisi yang lain tubuh-tubuhpun disetrum oleh berbagai efek bunyi dan vokal pemusik. Kehadiran pencahayaan panggung dan musik terasa mempertegas kekuatan dari karya ini.

Tubuh-tubuh senantiasa terus bergerak. Tubuh-tubuh yang memiliki jenis kelamin ini (tiga perempuan dan satu laki-laki), mulai gelisah dan ingin pergi. Mereka menatap ke segala arah, ke mana ia akan pergi. Akhirnyal, tubuh-tubuh perempuan pergi menuju entah, mungkin saja kosong. Tinggal tubuh laki-laki yang berada pada titik cahaya, ia dipenjara oleh cahaya, ia tidak bisa lagi bergerak secara merdeka, tubuh laki-laki itu bergerak layaknya sebuah prosesi menuju kematian, ia bergerak dengan pendistorsian tubuh yang pada akhirnya terlihat mengecil, mengecil, dan mengecil. Lelaki itu melakukan gerakan-gerakan kecil, cahaya berusaha mengikuti irama gerakan tubuh tersebut, sampai pada akhirnya lampu fade out.

Begitulah gambaran struktur puitik dari pertunjukan tari berjudul an Experience, koreografer Tyaz De Nio pada hari Rabu, tanggal 15 Juni 2011 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah-Surakarta pukul 20.00 Wib. Karya tari ini didukung oleh  para penari yaitu Tyaz De Nio, Retno ‘Eno’ Sulistyorini, Astri Kusuma Wardani, Dewi Galuh Sintosari dan Danang Pamungkas. Penata Cahaya Tria Vita, Penata Musik Rudy Sulistanto dengan pemusik Rudy Sulistanto, Misbach Bilok dan Alam Wardhana.

 

Tubuh Personal-Publik, Tubuh yang mencari hakekat tentang ‘ada’

Epistimologi Pendistorsian Tubuh yang Estetis

            Fenomena tubuh sebagai simbol personal atau simbol yang bersifat publik telah menjadi diskursus dalam kebudayaan di Eropa selama hampir ratusan tahun. Diskursus tentang tubuh ini merupakan suatu proses interpretasi terhadap objek material tubuh dan mencari pemaknaan terhadap hakekat tentang ‘ada’. Tubuh merupakan sebuah organisme fisik manusia yang memiliki aspek ‘antropologi biologis’. Nietzsche mengungkap persoalan tubuh dalam perspektif ‘ada’ (eksistensialisme) dengan menjelaskan bahwa “tubuh adalah kita sendiri”.

            Gading J Sainipar mengutip pemikiran Louis Leahy menjelaskan bahwa keberadaan tubuh merupakan sebuah refleksi pada kenyataan keberadaan manusia. Manusia ‘ada’ dan menjadi ‘ada’, dalam arti tertentu menunjukkan manusia pernah ‘tidak ada’. Hal dibutuhkan sebuh kesadaran, bahwa ketika manusia sadar akan keberadaan dirinya, ia semakin mampu menjadi penanggung jawab  atas gerakan dan proses yang menempatkannya dalam kenyataan hidup.

            Tubuh abad 21 berada pada mekanisme virtualitas, individualistis, dunia imajinasi, realitas kongkrit yang kehilangan batas pemisah dan cenderung paradoks. Fenomena tubuh telah menjadi mainstream ideologi kapitalisme yang diwujudkan melalui ruang-ruang teknologi, industri, komunikasi, manusia urban, lifestyle, konsumeristik, dan lain-lain. Tubuh telah kehilangan identitas kultural karena begitu banyak ia mengadopsi fenomena tubuh impor. Prinsip keterasingan yang dialami oleh tubuh kultural ini, mengakibatkan muncul berbagai bentuk pendistorsian tubuh secara estetis. Suatu hal yang terlihat janggal, namun begitulah hegemoni estetika tubuh barat yang mengalami proses pendistorsian terhadap tubuh-tubuh kultural masyarakat Indonesia hari ini. Pada prinsipnya, tubuh terus mengalami pergulatan makna untuk menemukan hakekat tentang ‘ada’, ia terus bergerak menuju ruang sempit, lorong gelap, berputar pada detak waktu secara dialektis. Walaupun hakekat ‘ada’ yang sebenarnya ingin dicapai adalah ‘kosong’.

Suatu pergulatan kreatif yang dilakukan oleh Tyaz De Nio dalam karya tari berjudul an Experience, sehingga karya ini memiliki pergulatan penafsiran simbolik yang arbitrer. Tidak ada ketentuan baku dalam menemukan apa yang ingin disampaikan oleh karya ini, walaupun pada dasarnya apa yang dilakukan oleh Tyaz De Nio merupakan sebuah pengalaman estetika personal yang selama ini terpendam. Sebagai penari dan koreografer, ia sering terlibat sebagai penari dengan tokoh tari terkenal seperti Sardono W Kusumo, Martinus Miroto, Mugiyono Kasido dan lain-lain.

 
Leave a comment

Posted by pada 19 Juni 2011 in Tak Berkategori

 

SAYEMBARA PENULISAN NASKAH DRAMA FEDERASI TEATER INDONESIA (FTI) 2 NASIONAL (UNTUK PELAJAR DAN MAHASISWA)

FTI berkehendak untuk menggairahkan kembali semangat menulis naskah drama, merangsang para penulis muda untuk juga bergiat di dalamnya, dan pada akhirnya meningkatkan perbendaharaan naskah Indonesia. Tidak tertutup pula harapan naskah-naskah baru tersebut dapat menjadi alternatif terutama bagi pertunjukan yang semakin dapat mewakili hidup dan persoalan-persoalan kemasyarakatan mutakhir kita.

Tema

Tema bebas, namun diharapkan yang “berakar” berkonteks dengan kekinian Indonesia.

Waktu Kegiatan

Pendaftaran dimulai awal Mei 2011, batas pengiriman terakhir tanggal 30 Juli 2011 ( cap pos).

Dewan juri:

Afrizal Malna (Satrawan), Nano Riantiarno (Teaterawan), Radhar Panca Dahana (Pembina Teater).

Tempat

Sekretariat FTI, Jl. Muchtaruddin 20 B Komplek PU Pasar Jumat Jakarta Selatan 121310 Indonesia, Telp. 021-8637 4965, Email : ftindonesi@yahoo.com

Hadiah

Pemenang Terbaik dari Terbaik : Rp. 10,000,000,- plus tropi dan piagam penghargaan

Pemenang 5 naskah drama Terbaik : masing-masing mendapatkan Rp. 5000,000,- plus tropi dan piagam penghargaan

Ketentuan Peserta:

1. Isi Naskah Tidak Menyinggung SARA

2. Pelajar dan mahasiswa Indonesia

3. Tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku

4. Jumlah HALAMAN NASKAH, MINIMAL 15 haL.maks.40 hal.

(Ukuran kertas A4, 2 Spasi, Arial), Berbahasa Indonesia.

5. Naskah dikirim dalam file digital (soft copy) 1 Buah

dan 3 rangkap berjilid (hard copy) dengan melampirkan :

- Photocopy Kartu Tanda Pelajar /Mahasiswa

- Biodata Penulis

- Surat pernyataan bahwa naskah yang dikirim adalah asli,

belum pernah diterbitkan dan tidak sedang diikutsertakan

dalam lomba sejenis, bermaterai 6000

6. Naskah drama dikirim ke panitia dengan kode:

SNPND FTI Pelajar/Mahasiswa 2011 ke sekretariat FTI.

 
Leave a comment

Posted by pada 18 Juni 2011 in Tak Berkategori

 

Tya Setiawati : menampilkan monolog berjudul “Demokrasi” karya Putu Wijaya dalam Mimbar Teater Indonesia (MTI) II

Padang Ekspres, Edisi Minggu 24 Oktober 2010

Oleh : Afrizal Harun

Mimbar Teater Indonesia (MTI) II tanggal 4-10 Oktober 2010, Taman Budaya Surakarta (TBS) kali ini mengambil tema “Menyoal karya-karya Putu Wijaya”. Terdapat dua puluh delapan penampil monolog dan empat penampil grup teater yang ikut berpartisipasi menjadi peserta dalam iven nasional tersebut seperti Butet Kartaradjasa (Yogyakarta), Teater Lungid (Surakarta), Kelompok Masyarakat Batu (Palu), Seni Teku (Yogyakarta), Teater Mandiri (Jakarta), Teater Tanah Air (Jakarta)Teater Cermin (Solo), Herlina Syarifudin (Jakarta), Dalif (Tinambung, Sulbar), Bramanty S. Riyadi (Tegal), Ria Ellysa Mifelsa (Bandung), Putu Satria Kusuma (Singaraja, Bali), Luna Vidya (Makassar), Genthong HAS (Yogyakarta), Anton Y. Kieting (Takengon, Aceh Tengah), Abuy Asmarandana (Samarinda), Wawan Sofwan (Bandung), Tya Setyawati (Padang), Ujang GB (Jakarta), Sih Wahyuning (Semarang), Agus Nur Amal (Jakarta), Nani Tandjung (Jakarta), Syamsul Fajri Nurawat (Mataram), Lingkar Study Teater Palembang (Palembang), Rizaldo Gonzales (Kotabaru, Kalimantan), Boni Avibus (Bandung), Agus Susilo (Medan), Heliana Sinaga (Bandung), Ikranagara (Jakarta), Irwan Jamal (Bandung), Lisa Syahtiani (Jakarta), dan Rita Matumona (Jakarta).

Pembicara seminar dalam iven Mimbar Teater Indonesia (MTI) II tersebut adalah Afrizal Malna (Yogyakarta), Benny Yohanes (Bandung), Cobbina Gillit (Amerika Serikat), Fahmi Shariff (Makassar), Michael Bodden (Kanada), Koh Yung Hun (Korsel), Aslan Abidin (Makassar), Tamara Aberle (Inggris), dan Nandang Aradea (Banten).

Hari ketiga, 6 Oktober 2010 pukul 21.15 WIB di Teater Arena Taman Budaya Surakarta (TBS), setelah pertunjukan “Dam” oleh Wawan Syofwan dari Bandung, Tya Setiawati menampilkan naskah monolog Putu Wijaya berjudul “Demokrasi”. Naskah ini pada dasarnya merupakan kritik Putu Wijaya dalam menyikapi persoalan demokrasi di Indonesia. Kita berada dalam paradigma demokrasi yang salah kaprah, demokrasi hanyalah sebuah jargon atas nama kepentingan oleh segelintir orang yang berkuasa, ambisius, dan hipokrit, demokrasi menjadi sebuah kata yang dekat dengan politik konspirasi. Kata demokrasi dalam perspektif Putu Wijaya hanyalah sebuah wacana belaka, tidak ada implementasi yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Demokrasi yang diagung-agungkan sebagai pondasi dalam melihat kepentingan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat kemudian mampu dibayar dengan uang dan kekuasaan. Siapa yang terpedaya dengan uang dan kekuasaan atas nama demokrasi, maka demokrasi tidak ada gunanya lagi dalam kehidupan, demokrasi sudah mati karena kita sendiri yang telah membunuh kata demokrasi tersebut.

Begitulah Tya Setiawati (sebut saja Tya) menampilkan naskah monolog “Demokrasi” karya Putu Wijaya melalui pendekatan sosio-kultur dan dialek vokal yang berirama ke-Jawa-an. Melalui gaya akting yang sedikit komikal, naskah ini mampu dikomunikasikan secara baik oleh Tya. Set dan properti yang minimalis berupa kursi panjang, keranjang, dan kostum ganti yang terdapat di dalam keranjang tersebut dapat dimanfaatkan secara efektif. Elemen pencahayaan yang ditata oleh Enrico Alamo tidak begitu memilih efek warna secara dominan, hanya beberapa titik pencahayaan yang berfungsi untuk menegaskan pola bloking, suasana dramatik lakon yang sedang dimainkan dan juga berfungsi sebagai batas area permainan.

Kemampuan Tya dalam menjaga ritme permainan, kesadaran terhadap penggunaan set dan properti, bisnis akting, gestur dan caranya menyikapi penonton teater malam itu, penulis sangat mengapresiasinya dengan baik. Walaupun sebenarnya terdapat kecelakaan teknis diawal pertunjukan, hal itu disebabkan oleh operator sound system yang begitu lama dalam mengaktifkan musik digital, sehingga pertunjukan sempat tertunda sekitar tujuh menit. Jelas saja, kecelakan teknis yang disebabkan oleh operator Sound System sangat mengganggu konsentrasi penonton yang akan menyaksikan pertunjukan monolog ini.

Setelah lampu pertunjukan secara perlahan dihidupkan dan musik digital sudah bisa diaktifkan oleh operator sound system, lalu seorang tokoh perempuan (Tya) masuk sambil membawa keranjang ke area panggung, ia menari mengikuti irama musik sambil mengelilingi area permainan. Setelah musik berhenti (fade out), perempuan itu duduk di kursi panjang. Sejenak suasana kembali hening, perempuan itu menatap ke sekeliling penonton, menerawang ke langit-langit gedung pertunjukan, akhirnya ia mengucapkan kalimat “Saya mencintai Demokrasi” dalam dialek Jawa. Sebuah teknik muncul yang sederhana dan biasa namun mampu memberikan daya sugesti yang baik. Penonton telah membangun impresi positif dalam pikirannya terhadap apa yang dilakukan oleh Tya diawal pertunjukan. Persoalan-persoalan dalam pertunjukan mulai digulirkan kehadapan penonton. Tokoh perempuan tersebut menceritakan kalau dia adalah pimpinan demonstrasi RT Gang Gusus Depan. Ia bersama penghuni RT Gugus Depan menolak pelebaran jalan yang akan dilakukan oleh petugas kelurahan yang telah bekerja sama dengan pimpinan pabrik tekstil di kota itu. Pelebaran jalan tersebut dilakukan atas dasar kepentingan bersama dan atas nama nilai-nilai demokrasi.

Pelebaran jalan dengan cara memangkas rumah warga yang berukuran enam meter kali empat bertujuan untuk memudahkan akses para buruh pabrik menuju tempat kerja mereka. Hal ini dipahami sebagai bentuk cita-cita demokrasi yang akan membantu masyarakat RT Gugus Depan secara ekonomi. Jalan tersebut akan ramai dilalui, termasuk juga mobil-mobil, bajaj dan kendaran bermotor. Para demonstran tetap melakukan penolakan terhadap eksekusi tanah seluas dua meter tersebut. Petugas kelurahan mengerahkan Buldozer sebagai jawaban atas penolakan warga tersebut, warga terus melakukan perlawanan, walaupun nyawa yang harus menjadi taruhannya, demokrasi harus tetap ditegakkan.

Tokoh Perempuan yang berperan sebagai pimpinan para demonstran akhirnya tidak tega menghadapi situasi yang begitu parah tersebut. Dengan sedikit melakukan pergantian kostum di atas panggung, Ia berniat dan memberanikan diri untuk menemui pimpinan perusahaan tekstil itu sendirian. Berbagai bujukan dan rayuan secara lisan oleh pimpinan perusahan tekstil tersebut tidak mudah menggoyahkan sikap demokrasi yang sudah tertanam dalam dirinya. Namun, ketika uang disodorkan tepat dihadapan matanya, ia mulai bertanya dalam hati “apakah ia benar-benar mencintai demokrasi?” ternyata tidak, perempuan itu telah rapuh, goyah dan terpedaya. Matanya melotot memandang uang dalam amplop yang bertuliskan angka sebesar satu milyar. Kata-kata demokrasi yang selalu ia kumandangkan akhirnya hilang dan lenyap begitu saja waktu itu. Kemudian secara perlahan lampu mulai dipadamkan (fade out) dan penonton bertepuk tangan. Maka selesai sudah pula “Demokrasi” dalam pertunjukan malam itu.
Beberapa pertunjukan yang penulis amati dalam iven Mimbar Teater Indonesia (MTI) II, baik penampil grup maupun peserta monolog memiliki keberagaman dalam mencermati konsep pertunjukan dan tafsir terhadap teks-teks naskah drama Putu Wijaya. Keberagaman tersebut tercermin dari kemampuan para performer menyikapi wilayah permainan baik secara indoor maupun outdoor secara cerdas. Benny Yohanes dalam seminar Mimbar Teater Indonesia sempat memberikan ulasan terhadap beberapa pertunjukan yang telah disaksikannya, termasuk pertunjukan monolog “Dam” Wawan Syofwan dan “Demokrasi” Tya Setiawati. Dua pertunjukan ini dalan perspektif Benny Yohannes merupakan suatu usaha dalam mewujudkan akting representasional di atas pentas, pilihan ini tidak bisa dipandang secara sederhana begitu saja. Untuk menjadi seorang aktor yang baik dan mampu diterima oleh masyarakat penontonnya memang membutuhkan proses panjang dalam melatih kemampuan bermain tanpa henti, membina kecerdasan intelektual, emosional, spritual, termasuk juga kecerdasan secara sosial.

Konteks lain, menyangkut penyelenggaraan iven Mimbar Teater Indonesia (MTI) II, tetap saja memiliki kekurangan yang cukup signifikan. Afrizal Malna menilai bahwa penyelenggaan iven ini seperti tidak ada persiapan yang matang. Tidak ada foto-foto dan dokumentasi visual mengenai pertunjukan Putu Wijaya dan Teater Mandiri-nya. Iven ini begitu miskin dalam menyikapi masyarakat penonton teater terutama untuk penonton awam, karena (menurut Afrizal Malna) tidak semua penonton mampu mengetahui secara mendalam mengenai proses kreatif Putu Wijaya melalui teater Mandiri-nya. Kemudian, Benny Yohanes juga kembali menambahkan, bahwa tidak ada ruang tersendiri untuk para kreator dapat bertemu dan berbagi pengalaman mengenai proses kreatif dan sejauh-mana tafsir mereka dalam menyikapi teks-teks naskah drama Putu Wijaya tersebut.

Semoga kita semua dapat belajar dari peristiwa budaya yang telah berlalu ini. Salam Teater**

Penulis adalah Penonton Teater,
Sekarang tinggal di Solo

 
Leave a comment

Posted by pada 26 Oktober 2010 in KRITIK PERTUNJUKAN TEATER

 

free counters

 
Leave a comment

Posted by pada 28 September 2010 in Tak Berkategori

 

Anak Lanun yang belum Ranum


Oleh Afrizal Harun

Menjelang pertunjukan Teater “Anak Lanun” karya/sutradara Pinto Anugrah di Taman Budaya Sumatera Barat pada hari Kamis, tanggal 28 Mei 2009, begitu banyak antusias masyarakat penonton teater baik dari kalangan pelajar, mahasiswa maupun seniman yang ingin menyaksikan pertunjukan. Disamping itu, mereka (penonton teater) ini juga melakukan proses interaksi yang baik dalam konteks senda gurau, bahkan sampai diskusi serius menyangkut tentang polemik politik, seni dan budaya terutama teater. Antusias masyarakat penonton teater ini, sangat patut kita hargai karena kita percaya bahwa teater itu akan menjadi bermakna apabila ada unsur penonton di dalamnya.

Tepat pada pukul 20.09 WIB, MC (uda Syuhendri) hadir di depan mikropon dan membacakan sinopsis karya “oh, hendak kukisahkan jua hikayat yang telah lama berulang jua; kususun balik hikayat budak melayu; agar semuanya jelas dan tak layu; akulah yang mereka sebut tun bujang; mencari ayahnya yang bernama anggang; anak minangkabau yang kelak mereka panggil raja kecik; membangun siak yang dikelilingi encik-encik; tun bujang yang mereka buru dengan meriam; musuh raja-raja bugis segala yang geram; oh, tanah melayu; tempat berdiri raja-raja bugis; tempat berdagang anak minangkabau; tempat bersyair budak melayu; kita lanun!” dan selamat menyaksikan….

Ketika musik pengantar pertunjukan mulai dimainkan, penonton digiring pada suasana gymic awal melalui penanda-penanda yang memiliki ruang interpretasi terhadap apa? Siapa? Dan mengapa? Kemudian lampu follow spot hidup (fade in), tepat mengarah kepada wajah pemain yang berambut setengah gondrong, pada kalimat selanjutnya baru kita mengetahui kalau dia memerankan tokoh Tun Bujang. Dia bergerak mencoba untuk memaknai properti yang berada di depannya. Kain putih yang menggumpal secara simbolik dengan bantuan cahaya senter memberikan pernyataan-pernyataan puitik dan metafor melalui narasi-narasi yang diucapkan oleh aktor dengan cara silih berganti. Pada bagian selanjutnya, gumpalan kain putih berubah menjadi layar dan kita dihadapkan pada suasana pelayaran yang jauh di sebuah negeri yang mungin saja bernama entah. Kemudian dialog-dialog tokoh hadir dan bertebaran di atas panggung sebagai pertanda pentingnya dialog tersebut diucapkan agar dapat diterima dengan baik dan jelas ditelinga penonton. Perdebatan tokoh yang menjadi cerminan tulang punggung sebuah drama (spine of drama) tercipta melalui konflik yang dimunculkan aleh para aktor di atas panggung mereka berdebat tentang identitasnya masing-masing. Sementara Tun Bujang masih saja disibukkan dengan pusaka dan pencaharian Anggang yang dia sebut sebagai ayah, tidak pernah menemukan titik temu. Sampai kemudian lampu panggung pertunjukan dipadamkan dan penonton bertepuk tangan. Pertunjukan-pun selesai begitu saja tanpa ada sesuatu yang harus dibawa ke alam mimpi.

Pentingnya membina Aktor/Aktris teater sehingga memiliki kemampuan bermain yang baik.

Ketika membaca naskah “Anak Lanun” karya Pinto Anugrah. Secara prinsip naskah tersebut memang bagus untuk diapresiasi karena mengangkat persoalan tematik yang berangkat dari tiga komponen penting untuk menjelaskan tentang sejarah kebudayaan melayu yaitu budaya Bugis, budaya Minangkabau dan Melayu itu sendiri. melalui perpaduan kata dan kalimat yang sangat metafor dan puitik, naskah yang diusung oleh Pinto Anugrah sangat kuat, namun pada sisi lain, naskah ini malah menjadi lemah karena disebabkan para pemain tidak mampu mengeksplorasi kata-kata maupun kalimat-kalimat naskah dalam konteks artikulasi, intonasi, diksi ke arah yang lebih maksimal, sehingga jelas terlihat setiap wujud laku yang diproyeksikan di atas panggung tidak memiliki isi, berekspresi, berkarakter dan sugestif. Sehingga pemahaman utama yang harus dipahami oleh para aktor/aktris yang bermain pada malam itu adalah membaca naskah di atas panggung dengan memerankan naskah di atas panggung tentu harus disikapi lagi dengan baik (sebagai bahan evaluasi).

Pemahaman tentang pertunjukan teater. Maka, aktor dan aktris memiliki peranan yang paling utama untuk menghidupkan lakon (cerita). Sementara posisi sutradara hanya sebatas bagaimana kemampuannya mengatur dan membina kerja artistik (pemain, penata cahaya, rias, kostum, dan sett/properti)  dan kerja manejerial pertunjukan. Secara manejerial, pertunjukan “Anak Lanun” karya/sutradara Pinto Anugrah menurut hemat saya tidak begitu bermasalah. Namun dalam konteks penyutradaraan, Pinto sangat lemah sekali dalam wilayah pembinaan aktor, sehingga mentalitas yang dibangun oleh para pemain belum mencerminkan kalau mereka benar-benar siap memainkan naskah tersebut, Pinto menurut hemat saya sangat kewalahan dalam melakukan proses pembinaan aktor untuk bisa bermain lebih berkarakter dan sugestif.

Perihal Anak Lanun yang belum Ranum

Kematangan sebuah pertunjukan teater tidak lepas dari pemahaman kita terhadap pentingnya sebuah proses yang maksimal. Sehingga dari proses tersebut, kita-pun dapat melihat hasil yang maksimal dan matang pula. Ketika melihat pertunjukan teater “Anak Lanun” karya/sutradara Pinto Anugrah, jelas sekali terlihat bahwa proses yang dilakukan oleh Teater Langkah Fakultas Sastra Indonesia Unand ini belum mencapai target yang diinginkan sehingga terkesan karya yang ditampilkan ‘tidak siap’ karena aspek-aspek visual yang sebenarnya ‘mungkin’ dalam frame atau visi sutradara masih banyak peluang eksplorasi yang ingin dilakukan tapi karena deadline pentas sehingga itulah yang bisa ditampilkan. Mungkin secara teknis, ruang komposisi dan capaian artistik melalui pengolahan sett, properti dan pencahayaan yang dibangun oleh Pinto Anugrah selaku sutradara tidak begitu menjadi persoalan yang signifikan, namun menyangkut wilayah pemeranan (keaktoran), berdasarkan amatan saya, inilah yang menjadi persoalan yang paling mendasar yang harus disikapi secara serius. Karena sebanyak apapun dan sebagus apapun naskah yang ditulis oleh Pinto Anugrah kalau cara memainkannya masih seperti dalam pementasan “Anak Lanun” maka sampai kapan-pun teater Langkah Fakultas sastra Indonesia Unand Andalas melakukan pementasan teater, tidak akan pernah berkembang secara maksimal dan dialektis.

Tulisan ini, memang berdasarkan amatan saya terhadap lemahnya peranan aktor dalam pentas “Anak Lanun” karya/sutradara Pinto Anugrah. Sehingga hal yang paling elementer yang harus dibenahi adalah pembinaan aktor-aktornya sehingga untuk pertunjukan ke depan tentunya Anak Lanun telah menjadi ranun dalam menyikapi pentingnya akting dalam dunia teater. Mudah-mudahan, tulisan ini dapat menjadi salah satu media saja untuk motifasi bagi sesama penggiat teater di Sumatera Barat, khusunya Teater Langkah. Salam Kreatif.

Penulis adalah Pemerhati Seni dan budaya

Khususnya Teater

 
1 Comment

Posted by pada 28 Juli 2010 in Tak Berkategori

 

PUTRI EMBUN DAN PANGERAN BINTANG: Imaji-imaji yang begitu liar

(catatan pertunjukan Bengkel Mime Theatre, di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta, 29-30 Mei 2010).

Oleh: Afrizal Harun

Ketika sutradara (Andi Sri Wahyudi) meminta saya untuk mencatat beberapa komentar dan kritik mengenai pertunjukan ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’, suatu kehormatan dan kepercayaan yang tidak mungkin saya tolak begitu saja. Dengan segala keterbatasan dalam dunia penulisan, akhirnya saya-pun mencoba memulainya, membuka catatan kecil yang tersimpan dalam handphone, dan mengingat-ingat kembali struktur pertunjukan yang ditampilkan pada malam itu. Mudah-mudahan komentar dan kritik ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk kelancaran proses karya ini selanjutnya.

Sebuah pertunjukan kategori Inovatif yang didukung oleh Yayasan Kelola. Bengkel Mime Theatre melalui pertunjukan ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ mencoba memberikan sebuah tawaran visual yang baru, berbeda, dibandingkan pertunjukan-pertunjukan mereka sebelumnya seperti Suspect, Aku Malas Pulang ke Rumah, Repertoar Tiga Fragmen (Three Little Duck, Rudi Berangkat Sekolah, dan Becakku Hilang Bersama Angin) dan lain-lain.

Bila pertunjukan mereka terdahulu lebih menonjol pada aspek keaktoran dalam membangun imaji-imaji dramatik pertunjukan. Kali ini, pertunjukan ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ lebih spesifik memberikan tawaran visual artistik kepada penonton dalam bentuk pengolahan setting panggung, pencahayaan, properti dan kostum. Malam itu, Bengkel Mime Theatre betul-betul melakukannya secara maksimal. Mata dan perasaan penonton seolah-olah dimanjakan untuk larut pada ruang imaji yang penuh dengan fantasi-fantasi. Mereka masuk pada sebuah negeri entah berantah, mungkin saja tentang kerajaan bulan dan bintang. Suatu eksplorasi yang begitu menakjubkan.

Hal lain yang patut kita apresiasi bersama adalah kemampuan mereka dalam mengolah kostum dan properti pemain. Kostum dan properti yang mereka kenakan berangkat dari perkakas rumah tangga seperti wajan, panci, sendok, garpu, baskom, ember, kursi, meja, drum, mangkok, botol bekas air mineral, tempat sampah, hanger, tali jemuran, taplak dan lain-lain.

Kehadiran perkakas rumah tangga ini tidak lagi bernilai fungsi seperti apa yang kita pahami dalam keseharian, namun telah berubah menjadi pernak-pernik kostum dan properti yang ditata secara cerdas dan inovatif. Dari eksplorasi ini maka hadirlah tokoh-tokoh seperti Mat Panci, Nenek Kursi, Kakek Meja, Pemuda Wajan, Detektif, Prajurit Malam, Anjing Besi dan Adhik Bunga. Walaupun ada juga para pemain yang tidak berangkat dari perkakas rumah tangga seperti Pangeran Bintang, Putri Embun, Malaikat Kecil, dan Gadis Bulan.

Begitulah sutradara dan beberapa pemain lain seperti Ari Dwianto, Hindra Setyarini, Eka Nusa Pratiwi, Asita, Ficky Tri Sanjaya, Setyadi, Bagus Taufiqurahman, M. Ahmad Jalidu, Nunung Deni Puspitasari, Megartruh dan Febrinawan melalui perkakas rumah tangga, mereka mencipta peristiwa –peristiwa  secara unik, komikal, dan lucu.

Pertunjukan ini dibagi menjadi tiga area permainan dengan beberapa struktur ceritanya, yaitu (1) depan gedung Societed, layaknya seperti pasar malam. Penonton dihadapkan situasi yang anti-fokus. Semua menjadi sembrawut, benang kusut yang tidak teratur. Tidak ada penanda untuk mulainya pertunjukan ini. Penonton dan pemain telah lebur menjadi satu, komentator begitu asyik dengan pengeras suaranya, lelaki menimba sumur, perempuan sedang mencuci baju, penjual Jus, pembuat kue, perempuan mengayuh sepedanya di keramaian, perempuan sedang membaca disudut cahaya lampu, lelaki sedang merias seorang bocah, dan seorang pemuda di dalam cerita ini bernama Fredy sedang menyapu sampah di jalanan. Karena letih ia-pun duduk di sebuah pohon besar, saat itulah dirinya berada dalam lamunan, malaikat kecil kemudian hadir dan mengajak lamunannya bercengkrama tentang imaji-imaji, semua benda-benda yang tadinya hanya diam mulai hidup dan bergerak, terbang menelusuri lorong waktu menuju dunia fantasi, (2) di ruang tengah gedung Societed, penonton kembali dibawa pada masa transisi antara ruang imaji dan kenyataan. Pemuda desa bernama Fredy telah berubah wujud menjadi pangeran Bintang. Ia mulai bergelut dengan imajinasinya, bertemu dengan tokoh-tokoh dari perkakas rumah tangga yang hidup, dan (3) di atas pentas dalam gedung Societed, penonton dihadapkan pada dunia fantasi tentang Kerajaan Bintang dan Bulan. Pangeran Bintang bertemu dengan gadis cantik dan periang bernama Putri Embun. Mereka berdua menjalin hubungan asmara, bercanda dan bermain dengan riangnya. Hubungan mereka mulai terusik, ketika Pemuda Wajan muncul bersama prajuritnya berusaha  merebut hati Puteri Embun, mereka berperang satu sama lain. Akhirnya, Puteri Empun berhasil dibawa lari oleh Pemuda Wajan. Pangeran Bintang sangat kesal, bersama para sahabatnya ia-pun mencari dimana Puteri Embun berada. Setelah Puteri Embun berhasil mereka selamatkan. Pemuda Wajan dan prajuritnya marah besar, akhirnya mereka kembali bertempur. Puteri Embun berusaha melerai perkelahian mereka berdua. Ketika Pemuda Wajan memberikan setangkai bunga, Puteri Embun menolaknya, Ia-pun menerima bunga pemberian dari Pangeran Bintang. Anehnya, bunga tersebut malah diserahkan pada Mat Panci, sosok tokoh yang tidak begitu menjadi fokus dalam cerita ini secara tidak terduga telah mencuri perhatian penonton waktu itu. Dalam kesedihan Pangeran Bintang, Gadis Bulan mencoba menghibur hatinya yang sedang gundah dengan sebuah lagu.

Sutaradara menaiki panggung, dan selesai sudah cerita ini dengan beribu tanda tanya dibenak kita. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan dalam pertunjukan ini? Semua menjadi liar dan berakhir begitu saja. Para pemain dengan seperangkat properti dan kostum yang digunakan terasa begitu lelah dalam memaknai apa yang telah mereka lakukan. Asumsi ini barangkali saja bisa benar, atau malah sebaliknya.

Imaji-imaji yang Liar: Sutradara telah membunuh Ekspresi para Aktornya

Mengamati pertunjukan ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ ini dari awal sampai akhir, saya melihat ada satu yang terlupakan dari proses ini yaitu pentingnya membangun peristiwa dramatik. Sebagai kelompok yang berangkat pada basis pantomim, Bengkel Mime Theatre selalu hadir dengan kemampuan dan kecerdasan para aktornya dalam mengolah peristiwa melalui akting (ekspresi, gestur) yang komikal, satir, parodi, lentur dan lucu. Dari beberapa rekaman video pertunjukan yang saya amati, memang kemampuan para aktor Bengkel Mime Theatre merupakan faktor utama dan dominan dalam menyikapi setiap cerita yang diperankan. Hampir setiap suasana sedih, senang, gembira, putus asa, tangis, tawa dan kecewa diolah sedemikian rupa menjadi perpaduan yang utuh (unity), kompleks dan intens.

Namun, dalam pentas ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ kali ini, saya tidak melihat keunggulan itu hadir dan muncul di atas panggung. Semua bergerak secara sendiri-sendiri, sehingga hampir keseluruhan adegan yang dibangun kehilangan nilai motivasinya. Interaksi pemain hanyalah sebuah gambaran yang lewat begitu saja, pergi kemudian bertemu lagi dan begitu seterusnya. Pangeran Bintang, Puteri Embun dan Gadis Bulan dan pemain bertubuh wajan, panci, bunga, besi dan lain-lain tidak mampu mengangkat peristiwa dramatik secara baik, terkesan masih menoton dan datar (flat). Barangkali saja karena keterbatasan proses latihan sehingga para pemain terlihat begitu masih direpotkan oleh properti dan kostum yang digunakan.

Begitu dominan dan liarnya imaji-imaji sutradara dalam penggarapan artistik seperti setting, properti, pencahayaan (panggung dan properti) dan kostum.  Sehingga saya mencermati bahwa sutradara tidak begitu fokus pada pengolahan akting pemain dan memperkuat struktur dramatik cerita. Wajar tidak terlihat peristiwa mana yang harus ditonjolakan (emphasis) dalam cerita ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ ini, apakah Pangeran Bintang, Puteri Embun, Pemuda Wajan, Mat panci, Gadis Bulan atau pemuda desa bernama Fredy.

Senada dengan hal di atas, beberapa komentar dari penonton sehabis pertunjukan juga memandang hal yang sama mengenai pertunjukan ini berkaitan tentang dominannya unsur artistik sehingga mematikan peranan aktor di atas panggung, kurangnya fokus penceritaan, pemain sangat direpotkan oleh properti yang digunakan dan akhir cerita yang tidak kuat sehingga tidak menemukan esensi sebenarnya yang ingin disampaikan sutradara dalam pertunjukan ini.

Ilustrasi Musik yang Mengganggu

Musik jelas merupakan faktor pendukung dalam membantu dan mempertegas suasana adegan dalam pertunjukan. Musik secara internal bisa saja muncul melalui pemain dalam menyikapi sett dan properti di atas panggung. Secara eksternal musik dapat dihadirkan secara langsung (live) maupun musik digital (komputerisasi). Pertunjukan ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ hampir secara keseluruhan menggunakan musik digital. Setiap ilustrasi yang muncul dari musik digital seyogianya dapat membantu, memperkuat dan mempertegas suasana dramatik pertunjukan. Namun. Justru kehadirannya malah mengganggu setiap suasana adegan yang tengah dibangun. Musik yang ditata oleh Ari Wulu cenderung bergerak secara sendiri-sendiri, banyak pengulangan-pengulangan dan tidak menyatu dengan aktor di atas panggung sehingga melemahkan peranan aktor dalam mewujudkan dramatik cerita.

Alangkah baiknya pertunjukan ini tidak menggunakan musik digital seperti itu, tetapi menghadirkan beberapa peralatan alat seperti Piano, Biola, Cello, Xylophone, Timpani, dan lain-lain layaknya mini orkestra dengan beberapa orang pemain musik mengetengahkan ilustrasi dan efek bunyi yang sesuai dengan kebutuhan cerita. Hadirnya bentuk musik non-digital ini diharapkan antara aktor, setting, properti, pencahayaan, akan terlihat penyatuan-penyatuan adegan yang begitu kuat dan saling mengisi antara satu dengan yang lain. Namun, pertunjukan malam itu telah memberikan refleksi yang besar bagi kita sebagi penonton, berangkat dari sebuah imaji yang begitu sederhana namun telah melahirkan sebuah proses yang sungguh luar biasa. Salut untuk Bengkel Mime Theatre. Salam Teater*


Solo, 31 Mei 2010

Penulis adalah Pemerhati Seni dan budaya

Khususnya Teater

 
Leave a comment

Posted by pada 28 Juli 2010 in Tak Berkategori

 

Sayembara Penulisan Lakon Realis

SAYEMBARA PENULISAN LAKON REALIS DIPERPANJANG SAMPAI 31 JULI 2010

Dalam dua dekade terakhir panggung teater Indonesia mengalami kemerosotan drastis dalam kuantitas pementasan bergaya realis, seiring dengan semakin banyaknya kemunculan “teater tubuh”. Sejumlah pengamat pernah menyatakan bahwa dalam teater kita telah terjadi krisis aktor. Hal itu mengacu pada kenyataan bahwa tidak banyak aktor yang menunjukkan kepiawaian menghidupkan teks (dialog) dan membangun karakter. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah kelangkaan lakon yang mengutamakan seni peran. Beberapa naskah jenis itu, yang sedikit jumlahnya, terlalu sering dipentaskan ulang tanpa menawarkan kesegaran. Sehubungan dengan itulah Komunitas Salihara menyelenggarakan Sayembara Penulisan Lakon Realis.

Syarat-Syarat:
1. Tema bebas.
2. Ditulis dalam bahasa Indonesia.
3. Memperhitungkan durasi pementasan, antara 1 sampai 1,5 jam.
4. Tidak berbentuk monolog dan dibuat untuk dimainkan oleh maksimal 5 (lima) karakter/tokoh.
5. Belum pernah dipentaskan/diterbitkan sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apa pun.
6. Naskah diterima panitia paling lambat pada tanggal 31 Juli 2010.
7. Pementasan perdana naskah pemenang menjadi hak panitia.
8. Nama dan biodata pengarang ditulis pada lembar terpisah dari naskah.
9. Naskah dikirim rangkap 4 (empat) dalam amplop yang ditulisi “Sayembara Penulisan Lakon Realis” di pojok kiri atas, ke:

Komunitas Salihara
Jl. Salihara 16, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12520

Pemenang dan Hadiah:
1. Dewan Juri akan memilih 3 (tiga) finalis dan menentukan 1 (satu) lakon terbaik.
2. Pemenang akan diumumkan pada Festival Salihara, September 2010.
3. Lakon terbaik akan mendapatkan hadiah uang Rp 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) dan dua lakon finalis lain masing-masing mendapat uang Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah); pajak ditanggung penerima hadiah.
4. Lakon terbaik akan dipentaskan untuk pertama kalinya di Teater Salihara sebagai produksi Komunitas Salihara.

Dewan Juri dan lain-lain:
1. Dewan Juri terdiri dari 3 orang: Iswadi Pratama (penulis lakon dan sutradara Teater Satu, Lampung), Zen Hae (penyair dan penulis cerita), dan Seno Joko Suyono (wartawan budaya Koran Tempo, pengamat seni pertunjukan).
2. Panitia (kurator dan seluruh karyawan Komunitas Salihara) dan anggota Dewan Juri dilarang mengikuti sayembara ini.
3. Keputusan Dewan Juri akan dipertanggungjawabkan pada saat pengumuman pemenang, dan tidak dapat diganggu-gugat.

Jakarta, 01 Januari 2010
Komunitas Salihara,
Panitia Sayembara Penulisan Lakon Realis

 
Leave a comment

Posted by pada 17 Juni 2010 in Tak Berkategori

 

Nama Calon Pemenang Sayembara Naskah Pusbuk 2010

Bersama ini saya informasikan daftar nama calon pemenang sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan tahun 2010 dari Kementrian Pendidikan Nasional Pusat Perbukuan yang saya dapatkan langsung dari teman saya yang lolos tahun ini.

Nama-nama hebat yang dipanggil itu berhak ke Jakarta dari tanggal 7 s.d. 10 Juni 2010 dan menginap di Hotel “OASIS AMIR” Jakarta Pusat. Pengumuman pemenang langsung disiarkan di TVRI hari Rabu 9 Juni 2010 di TVRI Pusat Jakarta, pukul 15.00 s.d. 16.30 WIB.

Cerita Anak

  1. Suherma, S.PD, Guru SDN Paoman III, judul Keluarga Pelangi
  2. Suparni, Guru TK Aissyiah Bustanul Athfal V, judul Sahabat
  3. Tuswadi, Guru SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara, judul Kidung Masa Kecil

Cerpen SMP

  1. Al Varidah, S.Sos, Guru SMP Al-Muttaqin Fullday School, Judul wasiat Bunga
  2. Gusti Diah Antasari, S.Pd, Guru SMPN 17 Jakarta Pusat, judul Pelangi tak Terbatas
  3. Siti Anisah, Guru MTs Darul Farah Sukorejo Ponorogo, judul Mereka yang Tak Menyerah

Novel SMP/SMA

  1. Drs. Asli br Sembiring, Guru SMK 1 Medan Area, Judul Laskar Sunggal- Membongkar Jaringan ekor Naga Putri Hijau di tanah Deli
  2. Gatot Supriyanto, guru SMPN 1 Grabag (SSN), judul Nyanyian Codet
  3. Lili Akhmad MR, guru SMAN 4 Bekasi, judul Namaku Abdul (Anak kampung Jejerukan)
  4. Mirawati, S.Pd, Guru SMKN 1 Rangas Mamuju, judul Sang Guru
  5. Suprihatin, S.Pd, Guru SMP 3 Jelita, Judul Kolong Surga
  6. Yeni Sukmawati, Guru SMPN 2 Majalengka, judul Saat kamboja Berbunga

Pantun SD

  1. Heri Kurniawan, Pustakawan SMPN 8 Yogyakarta, judul menjadi anak negeri: Kumpulan Pantun
  2. Drs. Kamulyo Santosa Hasyim, guru SMAN 7 Tangerang, judul Mengenal Budaya Nusantara melalui pantun
  3. Sadino, guru SDN Tepisari 02 Sukoharjo Jateng, judul Meningkatkan IQ dan EQ dengan pantun terpadu

Puisi SD/SMP

  1. Bussairi D. Nyak Diwa, Drs, Guru SMAN 1 Kluet Utara, Aceh Selatan, judul Ziarah Hati
  2. Hidayat Raharja, S.Pd, guru SMA Negeri 1 Sumenep, judul Jalan Ke Rumahmu
  3. Lufiana, S.S, guru SMP Muh. Glondo, judul kabar dari alam
  4. Purwaningsih, guru SMPN 23 Purworejo, judul Larik-larik Persembahan
  5. Sultan Efendy, S.Pd, Guru SMP N 10 Pare-pare Sulsel, judul Menunggu di pintu waktu
  6. Tjachjono Widarmanto, Guru SMAN 2 Ngawi, judul Mata Ibu

Drama SMA

  1. Drs. Sumpeno, M.Sn, Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, judul Sepasang Mata yang Berharap
  2. Muh Arif Wijayanto, S.Sn, Guru SMK 1 Kasihan Yogyakarta, judul Air Mata semar
  3. Nanik Irawati, S.Pd, guru SMKN 7 Purworejo, judul Dolalak Dukuh Jenar

Pengayaan Pengetahuan Alam dan Matematika

  1. Arief Fadillah, Guru SMAIT Thariq bin Ziyad Bekasi, judul Mangapa Harus Takut pada Radiasi?
  2. Elizabeth Tjahja Darmawan, S.Si, M.Pd, guru SMA Xaverius 1 Jambi, judul Cassiavera dari Kelinci- Primadona Dunia
  3. Endang Sri Sulistyrini, S.Pd, guru Guru SDN Karangsari 2 Blitar Jawa Timur, judul Ketika Mama Pergi
  4. Gunawan, A.Ma.Pd, guru SD N 1 Sukokerto, judul Rahasia Dibalik sampah
  5. Hary Tridayanto, S.Si, Widyaiswara P4TK, Cianjur Jawa Barat, judul Sumber energi dan Upaya penghematan Energi
  6. Ikbal Gazalba, S.Si, Pengajara BTA Alumni Cijantung Jaktim, judul Aku dan Gempa
  7. Ranny Noviany,guru SD yayasan cahaya mutiara Cimahi Jawa Barat, judul Matematika Itu Menyenangkan
  8. Sri Kuncoro, A.Ma, Guru SDN 04 Jatisobo, Karang anyar jawa Tengah, judul Air (Antara Misteri, Kawan, dan Lawan)
  9. Winda rahmalia, S.Si, M.Si., Dosen Univ. Tanjungpura Pontianak Kalbar, judul Mengenal Sumber Bahan baku dan Metode Pembuatan Bio diesel

Pengayaan Pengetahuan Sosial

  1. Cucu Munawar bin Abduurohim, guru SMAN 3 Sukabumi Jawa Barat, judul Mengenal dasar ekonomi syariah
  2. Drs. Heri Suritno, Kepala SDN Siwarak Wetan, Banyumas jawa Tengah, judul Pesona taman bawa tanah “Gua Petruk”
  3. Ir. Soetawi, M.P., Dosen fakultas Pertanian Peternakan Kampus III UMM, judul Remaja dan Rokok Penyakit, Kemiskinan, dan fatwa
  4. Johan wahyudi, guru SMPN 2 Kalijambe, Sragen Jawa Tengah, judul Menjadi Cerpenis
  5. Murhamsyah, SI.P, guru SMP YPVDP Bontang Selatan Kal-Tim, judul Mengapa Bumiku makin panas?
  6. Ruliani Indrawati, Guru SMP N 4 Cianjur, judul Bunga-bunga Bahasa
  7. Sunarsih, guru SD Islam Terpadu Nurul Islam, judul Yuk, ke Desa

Pengayaan Keterampilan

  1. Das Salirawati, M.Si, Dosen Univ Negeri Yogyakarta, judul Nata de Banana Skin Home Industri yang menjanjikan
  2. Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd, Dosen UNNES Semarang Jawa Tengah, judul Mosaik-Menata Kepingan Menjadi Karya Menarik
  3. Drs. Mudiono/Muslimah hariyani, guru SDN Trahan/SDN Karangturi, Rembang jateng, judul Aku Ingin Menjadi Jagoan Batik
  4. Kurnia hadinata, s.Pd, guru SMP N 2 Pati Pasaman, Sumbar, judul Pelajar Ayo Buat Film (Penuntun Praktis dan Jitu Membuat Film Pendek Cara Indie)
  5. Nur Laili Munazalah, guru Jarimatika Unit Cemani, Lawetan Jateng, judul Kebun sayur Organik
  6. Tejo Wahyono, guru SDN 1 Banyuroto, jawa Tengah, judul Menjadi Peternak Kelinci Teladan

Biografi

  1. Dra. Eko Sri Israhayu, M.Hum, Dosen FKIP Univ. Muhammadiyah Purwokerto Jateng, judul NH Dini, Tak Pernah kekeringan Ide

Kepada para pemenang sayembara penulisan naskah buku pengayaan tahun 2010, saya ucapkan selamat mendapatkan hadiah uang sebesar Rp.21.000.000 untuk Juara Pertama, Rp. 20.000.000 untuk juara kedua, dan Rp. 19.000.000 untuk juara ketiga.

Link Terkait: http://wijayalabs.com


 
Leave a comment

Posted by pada 13 Juni 2010 in Tak Berkategori

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.